“Do not wait to strike till the iron is hot; but make it hot by striking.”

~ William Butler Yeats

 


 

Di tengah perdebatan global mengenai etika dan regulasi kecerdasan buatan (AI), Spanyol menunjukkan inisiatif luar biasa. Pada 22 Agustus 2023, negara ini mengumumkan berdirinya Agencia Española de Supervisión de la Inteligencia Artificial (AESIA) atau Agensi Spanyol untuk Pengawasan Kecerdasan Buatan sebagai badan regulasi AI pertama di Uni Eropa. Tujuan agensi ini tidak hanya mematuhi regulasi Uni Eropa, tapi juga memberikan model tata kelola AI yang dapat diikuti oleh negara lain. Jadi, apa yang membuat AESIA ini begitu penting, dan mengapa ini menjadi suatu isyarat bagi masa depan regulasi AI di Eropa dan dunia?

 

Pergerakan Regulasi AI Eropa

Sebelum kita membahas AESIA, mari kita kenali dulu AI Regulatory Act atau Undang-Undang Kecerdasan Buatan milik Uni Eropa, yang merupakan tonggak regulasi AI pertama di dunia. Undang-undang ini—yang diajukan pada 21 April 2021—membagi sistem AI ke dalam beberapa kategori berdasarkan tingkat risikonya—dari “risiko tinggi” seperti sistem pengenalan biometrik hingga “risiko rendah” seperti chatbots. Selain itu, undang-undang ini juga memandu negara-negara anggota untuk membentuk lembaga pengawas AI. Di sinilah AESIA masuk sebagai sebuah inisiatif yang tidak hanya mematuhi, tetapi juga melampaui ekspektasi.

 

Peran dan Dampak AESIA

AESIA adalah lembaga pertama di Uni Eropa yang memiliki tugas mendetail dalam pengawasan AI. Agensi ini akan menciptakan protokol penilaian risiko, mengaudit algoritma dan praktek data, serta menetapkan aturan yang mengikat untuk pengembangan AI. Tidak hanya itu, AESIA juga merupakan bentuk regulasi sesuai rencana dalam Strategi Nasional AI Spanyol, yang menekankan pada peningkatan investasi di bidang penelitian AI, pelatihan keahlian, dan inovasi. Kehadiran AESIA menjadi bukti nyata dari komitmen Spanyol untuk menjadi pemimpin di bidang ini.

 

“Golden Standard” Regulasi Global

Berdirinya AESIA tidak hanya mempengaruhi Spanyol atau Uni Eropa saja, tetapi juga memiliki dampak global. Dengan memberikan contoh konkret tentang bagaimana sebuah negara bisa mengambil kendali atas tata kelola AI, Spanyol membuka jalan bagi negara-negara lain untuk ikut serta. Model ini dapat menjadi blueprint bagi negara lain, bahkan di luar Uni Eropa, untuk mengimplementasikan tata kelola AI yang etis dan bertanggung jawab.


Indonesia Kapan?

Saat membicarakan regulasi AI, pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah, “Kapan Indonesia akan ikut?” Meskipun Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan AI, termasuk di bidang pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur, regulasi yang mendukung masih belum ada.

Mengingat urgensi dan kompleksitas isu ini, Indonesia perlu segera mengejar ketertinggalan. Model AESIA bisa menjadi sebuah referensi yang baik untuk memulai. Selain itu, ada peluang kerja sama antar-negara dalam pengembangan dan penerapan AI yang etis dan bertanggung jawab.

 

Kesimpulan

Spanyol telah menetapkan standar baru dalam tata kelola AI dengan meluncurkan AESIA. Langkah ini adalah sebuah kemajuan yang signifikan dalam upaya memanfaatkan kecerdasan buatan untuk kebaikan bersama, sekaligus memitigasi risikonya. Sebagai sebuah inovasi dalam regulasi AI, AESIA adalah langkah ke arah yang benar dan menjadi sebuah model yang patut diikuti oleh negara lain, termasuk Indonesia.